Orang pertama yang berhasil mendaki 14 puncak gunung tertinggi di dunia adalah Reinhold Messner, seorang pendaki asal Italia, yang menyelesaikan prestasi ini pada tahun 1986.

Dari Nepal, pendaki pertama yang mencapai prestasi serupa adalah Mingma Sherpa. Ia menjadi orang Nepal pertama dan orang Asia Selatan pertama yang berhasil mendaki 14 gunung dengan tinggi 8.000 meter.

Selain itu, Nirmal Purja., seorang mantan tentara Gurkha dan anggota Pasukan Khusus Inggris, mencatat rekor dengan menaklukkan 14 puncak gunung tertinggi di dunia dalam waktu kurang dari tujuh bulan pada tahun 2019. Dia mencatatkan prestasi ini sebagai bagian dari misinya yang lebih besar untuk mendaki semua 14 puncak di atas 8.000 meter dalam waktu yang sangat singkat, yang dikenal sebagai “Project Possible”. Purja berhasil menaklukkan 14 puncak tersebut dalam waktu enam bulan dan enam hari, termasuk semua puncak di Nepal yang berada di atas 8.000 meter. Nirmal Purja mencapai puncak ke-14, Shishapangma, pada 29 Oktober 2019, setelah mendaki Everest, Kanchenjunga, Lhotse, Makalu, Cho Oyu, Dhaulagiri, Manaslu, dan Annapurna di Nepal.

Prestasi ini menunjukkan dedikasi dan keberanian luar biasa dari para pendaki Nepal dalam menaklukkan puncak-puncak tertinggi di dunia.

Reinhold Messner

adalah seorang petualang, pendaki gunung, dan penulis Italia yang telah menjadi ikon dalam dunia alpinisme. Reinhold Messner tidak hanya dikenal sebagai seorang pendaki hebat tetapi juga sebagai seorang yang memberikan kontribusi besar pada pemahaman dan penghargaan kita terhadap pegunungan dan alam. Kisahnya adalah cerita tentang keberanian, kehilangan, dan kecintaan pada alam yang tak ada bandingannya.

Awal Karier dan Kehilangan Saudara

  • Nanga Parbat (1970): Salah satu momen paling tragis dalam hidup Messner terjadi ketika ia dan saudaranya, Günther, mencoba mendaki Nanga Parbat. Mereka berhasil mencapai puncak, tapi dalam perjalanan turun, Günther terpental oleh salju longsor dan meninggal. Ini adalah kehilangan yang sangat mempengaruhi Messner, dan ia selalu mengenang saudaranya dalam banyak karyanya.

Prestasi Luar Biasa

  • Everest Tanpa Oksigen (1978): Messner dan Peter Habeler menjadi yang pertama mendaki Everest tanpa oksigen tambahan, menunjukkan bahwa itu bisa dilakukan dan membuka era baru dalam pendakian gunung tinggi.
  • Solo Everest (1980): Messner kemudian mendaki Everest sendirian tanpa oksigen tambahan, menjadi orang pertama yang melakukannya. Ini adalah salah satu prestasi terbesarnya, menunjukkan keberanian dan kemampuan teknis yang luar biasa.

14 Puncak di atas 8.000 Meter

  • Proyek 8000ers: Messner adalah orang pertama yang mendaki semua 14 puncak di atas 8.000 meter di dunia. Ia menyelesaikan misi ini pada 1986 dengan mendaki Lhotse. Selama perjalanan ini, ia menghadapi banyak kondisi ekstrem dan bahaya, termasuk kehilangan teman pendaki.

Filosofi dan Kontribusi

  • Alpinisme Pur atau “Clean Climbing”: Messner adalah pembela pendakian yang lebih sederhana, lebih dekat dengan alam, dan dengan sedikit ketergantungan pada peralatan modern. Dia menulis banyak buku tentang filosofi ini.
  • Penulis dan Pembicara: Selain sebagai pendaki, Messner adalah penulis produktif dengan lebih dari 60 buku, termasuk biografi, petualangan, dan buku-buku tentang alam dan lingkungan. Ia juga banyak berbicara tentang pentingnya pelestarian alam.

Kontroversi dan Kritik

  • Debat dengan Kritikus: Sebagian kariernya juga diwarnai oleh kontroversi, terutama mengenai metode pendakiannya dan klaim-klaim tertentu. Beberapa pendaki dan kritikus meragukan beberapa pencapaiannya, meski bukti dan cerita dari pendaki lain sering kali mendukung klaimnya.

Warisan

  • Museum Messner Mountain: Messner telah mendirikan sejumlah museum yang didedikasikan untuk alpinisme dan budaya pegunungan, yang tersebar di seluruh Italia, menyebarkan pengetahuan dan cinta terhadap pegunungan.

Puncak Gunung Everest

Sagarmatha: Ini adalah nama resmi di Nepal untuk Gunung Everest. Istilah ini dalam bahasa Nepal berarti “Dewi Langit”.

Edmund Hillary dan Tenzing Norgay sebagai Orang Pertama yang Mencapai Puncak Gunung Everest:

  • Edmund Hillary dan Tenzing Norgay: Pada tanggal 29 Mei 1953, Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Tenzing Norgay, seorang Sherpa dari Nepal, menjadi dua orang pertama yang dikonfirmasi mencapai puncak Gunung Everest. Ini adalah bagian dari ekspedisi tahun 1953 yang disponsori oleh Kerajaan Inggris, dipimpin oleh Kolonel John Hunt.
  • Pendakian: Setelah banyak upaya sebelumnya gagal, keduanya mulai mendaki dari base camp pada malam hari, menginap di Camp 9 (sekitar 8.500 meter) sebelum melanjutkan perjalanan pagi harinya. Mereka menghadapi cuaca buruk, kondisi fisik yang ekstrem, dan bahaya seperti longsoran salju. Namun, mereka berhasil mencapai puncak pada pukul 11:30 pagi.
  • Kontribusi Tenzing Norgay: Tenzing Norgay adalah seorang Sherpa berpengalaman yang telah berpartisipasi dalam beberapa ekspedisi Everest sebelumnya. Keterampilan dan pengetahuannya tentang gunung ini sangat penting untuk keberhasilan pendakian. Meskipun sebagian besar dunia mengenal Hillary sebagai tokoh utama, Tenzing juga mendapat pengakuan luas atas prestasinya.
  • Hubungan Antara Keduanya: Setelah mencapai puncak, mereka saling menghormati dan membantu satu sama lain. Tidak ada perselisihan tentang siapa yang pertama kali menginjakkan kaki di puncak; keduanya telah setuju untuk tidak mengungkapkan hal tersebut, mengingat pentingnya pencapaian kolektif mereka.
  • Dampak dan Pengakuan: Berita keberhasilan mereka diumumkan pada 2 Juni 1953, bertepatan dengan penobatan Ratu Elizabeth II, yang membuatnya menjadi berita internasional dan simbol kebanggaan bagi Inggris dan persemakmuran. Hillary dianugerahi gelar ksatria, sementara Norgay mendapatkan penghargaan dan medali dari berbagai negara, termasuk India dan Nepal.


Orang Indonesia Pertama yang mencapai Puncak Everest:

Kisah Asmujiono dan Tim Kopassus dalam Pendakian Everest

Persiapan

Pada tahun 1996, Mayjen Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat sebagai Danjen Kopassus, mencetuskan ide untuk mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Gunung Everest. Ini bukan hanya misi pendakian, tetapi juga tugas nasional untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu mengimbangi negara-negara lain dalam hal keberanian dan kemampuan fisik.

Asmujiono, seorang prajurit Kopassus yang pada saat itu masih berpangkat Pratu, terpilih untuk menjadi bagian dari ekspedisi ini. Persiapan dimulai dengan seleksi ketat di mana 33 orang dari TNI Kopassus, Wanadri, Mapala UI, Rakata, dan lainnya dikirim ke Nepal. Dari sana, seleksi lebih lanjut mengurangi jumlah anggota hingga tersisa 16 orang yang kemudian dibagi menjadi dua tim: Tim Utara (6 orang) dan Tim Selatan (10 orang). Asmujiono bergabung dengan Tim Selatan.

Pelatihan fisik dan mental dilakukan dengan keras, dipandu oleh pendaki kawakan seperti Anatoli Nikolaevich Boukreev dari Kazakhstan, yang dikenal sebagai “The Ghost of Everest,” dan Richard Pawlosky dari Polandia. Mereka dilatih tidak hanya untuk bertahan di ketinggian ekstrem tapi juga untuk menghadapi cuaca yang bisa berubah drastis.

Perjalanan

Perjalanan dimulai pada Maret 1997. Tim Selatan, termasuk Asmujiono, mendaki dari jalur Nepal, melewati berbagai camp base dengan ketinggian yang meningkat. Mereka menghadapi cuaca yang ekstrem, dengan suhu bisa mencapai minus 50 derajat Celcius, serta risiko hipoksia karena kurangnya oksigen di ketinggian tinggi.

Selama perjalanan, mereka menghadapi banyak tantangan seperti anggota tim yang jatuh sakit atau terkena frostbite, kekurangan pasokan oksigen, dan bahkan melihat mayat pendaki lain yang gagal mencapai puncak. Namun, semangat nasionalisme dan keinginan untuk menunjukkan kemampuan Indonesia di panggung dunia menjaga mereka tetap bergerak maju.

Pencapaian

Pada tanggal 26 April 1997, setelah perjalanan yang melelahkan, Asmujiono, bersama dengan Sertu Misirin dan Lettu Iwan Setiawan, berhasil mencapai puncak Everest. Asmujiono, sebagai anggota tim yang pertama sampai di puncak, langsung membuka masker oksigennya, mengenakan baret merah Kopassus, dan mengibarkan bendera Merah Putih. Ia juga meneriakan “Allahu Akbar” untuk pertama kalinya di puncak gunung tertinggi di dunia, mencatatkan sejarah bagi Indonesia.

Meskipun Misirin hanya bisa mencapai titik 16 meter sebelum puncak dan Iwan Setiawan 30 meter sebelum puncak, keberhasilan Asmujiono menjadi simbol keberhasilan tim dan bangsa Indonesia. Mereka kemudian turun kembali, dengan bendera Merah Putih tetap berkibar di puncak Everest selama sebulan, menunggu tim lain mencapai puncak.

Keberhasilan ekspedisi ini tidak hanya membawa prestasi bagi Kopassus dan TNI tetapi juga membanggakan Indonesia di kancah internasional. Asmujiono mendapatkan berbagai penghargaan, termasuk rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk menjadi orang pertama yang meneriakan “Allahu Akbar” di puncak Everest. Kisah ini menjadi bukti bahwa semangat, keberanian, dan tekad dapat mengatasi keterbatasan fisik dan tantangan alam yang paling ekstrem.

Sumber:

Informasi ini disarikan dari berbagai sumber yang telah disediakan, termasuk artikel dari National Geographic, Kompas.com, Tribunnews.com, dan Merdeka.com dan Wikipedia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *